Jumat, 22 Januari 2010

ISLAM IDEAL ADALAH ISLAM YANG MEMBERI MANFAAT BAGI ORANG LAIN

Idul fitri adalah momentum lahirnya manusia muslim ideal, manusia muslim paripurna. Sebab puasa ramadhan telah menempa umat Islam dengan nilai-nilai berikut

Pertama, Mendidik dan melatih manusia untuk mengekang kesenangan perut agar tidak diperhamba atau diperbudak oleh perutnya. Ini terkandung di dalam pengekangan diri dari makan dan minum.

Pada dasarnya, makan dan minum itu adalah halal. Akan tetapi jika melampaui batas, yang halal itu akan menjadi haram, dan perbuatan itu dibenci oleh Allah dan disukai oleh syaitan.

Dengan puasa, makan dan minum yang terkadang melampaui batas itu dapat kembali diseimbangkan. Sehingga ketika tiba hari kemenangan ini, umat Islam yang telah berhasil dalam puasanya, mampu mengendalikan diri dari yang halal, terlebih lagi dari makanan, minuman yang memang diharamkan oleh Allah. Begitu pula cara memperoleh makanan dan minuman itu, tidak lagi menempuh cara-cara yang menyalahi ajaran agama yang mulia ini.

Kesadaran yang telah lahir kembali di dalam jiwa kita di hari yang suci ini, akan mampu membawa kita kepada aktifitas yang suci pula pada hari-hari mendatang. Tiada lagi cara-cara kotor dalam memperoleh nafkah, seperti yang belakangan ini marak terjadi di tengah-tengah masyarakat, seperti penimbunan bahan kebutuhan pokok masyarakat, kecurangan dalam jual beli, daging ayam disuntik air, daging sapi digelonggong, beras diberi zat pemutih, barang yang kadaluarsa dicampur dengan barang yang baru dan berbagai praktek curang, yang tidak hanya merugikan kita secara materil, akan tetapi bisa merenggut jiwa kita secara perlahan. Tidakkah di dalam tadarus Al-Qur'an kita, kita membaca kisah kaum Nabi Syu'aib, yang dimusnahkan Allah dengan bencana yang amat pedih. Azab dan siksaan itu mereka peroleh karena mereka curang dalam takaran dan timbangan ketika berjual beli. Padahal apa yang kita temukan di dalam kehidupan kita sehari-hari, pola laku sebagian kita itu lebih parah dari pola laku kaum Nabi Syuaib. Konsekuensinya sebagai sunnatullah, maka jika kita tidak segera menyadari itu, boleh jadi bencana, azab dan siksa-Nya pun akan lebih hebat dari apa yang telah dialami kaum Nabi Syuaib.

Hawa nafsu untuk mendapatkan sesuatu jika tidak mampu dikendalikan akan mendorong seseorang untuk menghalalkan segala cara. Sebab hawa nafsu tidak pernah puas dan selalu mengajak kepada hal-hal yang bersifat negatif. Ia bagaikan air laut. Semakin diminum, semakin mengundang dahaga.

Semoga dengan usainya puasa, dan dengan sucinya kita dari dosa-dosa yang telah lalu, catatan kelam dosa-dosa itu segera kita tinggalkan. Hawa nafsu mampu kita kendalikan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

Kedua, Mendidik manusia untuk secara sadar melatih mengekang nafsu syahwat agar terhindar dari perbuatan-perbuatan keji dan kotor. Ajaran ini terkandung di dalam larangan melakukan hubungan badan, walaupun dengan isteri sepanjang siang hari Ramadhan.

Dengan nilai ini, diharapkan dengan usainya puasa Ramadhan akan lahir, manusia-manusia suci yang menegakkan sifat adil di dalam dirinya, yaitu dengan jalan meletakkan syahwat dan amarahnya sebagai tawanan yang harus mengikuti perintah akal dan agama. Bukan malah sebaliknya, menjadikannya sebagai tuan yang mengarahkan akal dan tuntunan agama. Dengan sifat ini, ia takut melakukan penyelewengan-penyelewengan sebagaimana ia takut jika dilemparkan ke dalam api neraka.

Perbuatan zina, atau dengan bahasa-bahasa yang kelihatannya lebih sopan, seperti selingkuh, orang ketiga, wanita idaman lain adalah penyimpangan syahwat yang dituruti di dalam tatanan masyarakat. Allah berfirman:

" Janganlah kalian mendekati zina dengan melakukan hal-hal yang mengarah kepadanya. Sebab zina adalah perbuatan keji yang sangat jelas keburukannya. Jalan itu adalah merupakan jalan yang paling buruk."

Jalan yang paling buruk bertentangan dengan ajaran agama kita yang selalu mengajak kepada jalan lurus, jalan hidayah dan jalan yang membawa kepada ketenteraman hidup.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

Kaum muslimin muslimat jamaah 'id yang berbahagia,

Ketiga, Menanamkan kebiasaan untuk mengawasi diri sendiri, karena yakin bahwa segala perbuatan pasti dapat dilihat oleh Allah, walau bagaimanapun jelinya orang merahasiakannya.

Puasa mengandung nilai ihsan, yaitu merasakan pengawasan Allah, di manapun dan kapanpun ia berada. Allah Maha Tahu segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Tindakan dan perbuatan yang lahir, ucapan yang keluar senantiasa terkontrol oleh kesadaran akan pengawasan Allah.

"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya, melainkan ada di dekatnya malaikat penjaga yang siap mencatatnya."

Keempat, Menanamkan sifat sabar dan tabah dalam hati setiap muslim dalam menghadapi segala godaan dan cobaan hidup yang pada dasarnya merupakan ujian keimanan dari Allah swt.

Puasa dengan nilai ini akan melahirkan muslim yang memiliki kecerdasan emosional, yang mampu mendorong lahirnya ketabahan dan kesabaran menghadapi segala tantangan dan ujian. Sebuah hadis Rasulullah saw, dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh al-Bukhari:

إذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث ولا يصخب فإن سابّه أحد أو قاتله فليقل: إنّى صائم.

"Apabila salah seorang di antara kamu berpuasa, maka janganlah dia mengucapkan kata-kata buruk, jangan juga berteriak memaki. Bila ada yang memakinya, atau mengutuknya, maka hendaklah dia berucap: "Aku sedang puasa."

Seseorang yang telah melakukan puasa, akan mengaplikasikan nilai ini pada kehidupan sehari-harinya. Ia mengendalikan hawa nafsunya. Ia menjadi cerdas secara emosional, sehinga ia akan bertindak dan berbicara pada saat diperlukan, dengan kadar yang proporsional, serta pada waktu dan tempat yang tepat. Rasulullah saw. adalah manusia teladan, dan panutan utama dalam hal ini. Ia tidak banyak bicara, tidak berkata kecuali atas dasar kebenaran, bekerja keras, dan tidak melakukan hal-hal yang sia-sia, tidak mendatangkan manfaat. Dari segi emosional antara lain, di dalam sejarah Nabi, tersebut bagaimana beliau menolak permintaan gunung thaif yang akan mengubur hidup-hidup bangsa thaif yang menjawab dakwah Rasulullah dengan penganiayaan, sehingga beliau terluka. Beliau berkata, bahwa mereka melakukan itu sebab mereka belum mengetahui arti dakwahnya.

Kesabaran dan ketabahannya di dalam dakwah membuahkan hasil gemilang dengan terbentuknya negara Madinah. Dengan demikian di dalam kehidupan kita ini keberhasilan dan kesuksesan, dunia dan akhirat, insya Allah mampu dicapai dengan kesabaran dan ketabahan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

Kelima, Melahirkan manusia yang bermanfaat bagi orang banyak, dengan adanya amalan-amalan, memberi makan orang miskin, anjuran memperbanyak sedekah dan infaq dan membayar zakat fitrah pada bulan ramadhan.

Nilai ini kemudian melahirkan manusia-manusia muslim yang membawa manfaat, tidak hanya kepada sesama muslim akan tetapi juga kepada umat manusia. Rasulullah bersabda:

خير الناس أنفعهم للناس

"Sebaik-baik manusia itu adalah yang paling banyak mendatangkan manfaat bagi manusia."

Puasa dimaksudkan tidak hanya pengayaan amalan-amalan personal, akan tetapi juga amalan-amalan sosial. Bukankah Ramadhan ini kita tutup dengan membayar zakat fitrah yang merupakan manifestasi keberhasilan kita mengembangkan semangat sosial dan kepedulian yang tinggi kepada masyarakat dan lingkungan sekitar. Memiliki kepekaan dan kepedulian pada lingkungan adalah salah satu perwujudan derajat "la'allakum tattaqun" yang merupakan tujuan pensyariatan ibadah puasa. Sedangakan orang-orang yang bertaqwa itu didefinisikan oleh Al-Qur'an dalam QS. Ali 'Imran (3): 134:

"Mereka adalah orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah, baik dalam keadaan cukup, kurang, mampu maupun tidak mampu, demi mendapatkan perkenan Allah. Kemudian, di samping itu, juga menahan marah sehingga tidak sampai membalas terutama kepada orang yang berbuat tidak baik kapada mereka, bahkan memaafkannya. Mereka itu termasuk orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah akan selalu memberi pahala dan perkenan- Nya kepada orang-orang seperti ini.

Manusia muslim adalah manusia yang selalu membawa manfaat, kedamaian, dan ketenteraman di tengah-tengah masyarakatnya. Manusia yang selalu menganjurkan dan mencontohkan perbuatan-perbuatan baik, dan selalu mencegah dan menghindari perbuatan yang mungkar, aniaya lagi keji dan merugikan kepentingan masyarakat banyak.

Rasulullah sebenarnya telah menggambarkan gambaran ideal seorang muslim, di dalam sebuah sabdanya yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:

المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده

Seorang muslim adalah orang yang membuat sesama muslim atau orang lain selamat dari perbuatan tangan dan ucapan lidahnya.

Seorang muslim tidak hanya membawa manfaat, akan tetapi lebih awal adalah menghindarkan orang lain dari gangguan yang ditimbulkan oleh ucapan dan perbuatannya.

Alangkah indahnya Islam, dan alangkah eloknya, jika tiap-tiap muslim mentransformasikan pengertian ini sebagai pandangan dan sikap hidup di dalam kehidupan sehari-harinya, di dalam berbagai aktifitas kehidupan di dunia yang fana ini.

Dengan pengertian ini, maka tiap-tiap muslim secara pribadi-pribadi mampu menunjukkan betapa ajaran Islam membawa rahmat bagi umat manusia. Dan secara otomatis, kita tidak lagi menganggap orang-orang yang senantiasa menimbulkan ketidak tenangan, ketidak tentraman, teror, perusakan, sebagai bagian dari umat Islam, sebagaimana Rasulullah secara tegas mengeluarkan orang-orang-orang yang berbuat demikian dari golongan umat Islam.

من حمـل علينا السلاح فليس منـا

"Barang siapa, yang membuat ketakutan, menghunuskan senjata kepada sesama manusia untuk melukainya bukan karena kebenaran, maka ia tidak termasuk dalam golonganku."

Begitu pula yang mengganggu aktifitas perekonomian dengan perbuatan-perbuatan curang yang merugikan masyarakat, juga dikeluarkan Rasulullah dari golongan umat Islam:

من غـشَّ فليس منـَّا

"Barang siapa yang menipu, maka ia tidak termasuk golonganku."

Ibadah puasa yang telah usai kita lakukan adalah latihan dan pembinaan jiwa umat Islam, untuk mewujudkan nilai-nilai ini di dalam kehidupan di atas dunia ini pada hari-hari mendatang. Karena itu hari ini kita merayakan kemenangan kita dari sikap dan pola-pola hidup negatif itu. Marilah kita jaga kemampuan kita mengendalikan diri, mengekang hawa nafsu yang setiap saat, di mana saja dan dengan cara-cara apa saja selalu menggoda kita. Marilah kita, menjaga itu, sehingga setiap saat kita dapat merasakan kegembiraan seperti kegembiraan pada hari yang fitri ini. Marilah kita wujudkan di dalam diri kita masing-masing sosok manusia muslim yang ideal, manusia muslim paripurna seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Mewujudkan dalam diri kita sosok muslim yang sesungguhnya adalah prasyarat utama kehidupan yang bahagia, tentram dan damai di atas bumi Indonesia ini. Marilah dengan momentum idul fitri tahun ini kita buka lembaran baru kehidupan kita. Krisis yang melanda negeri kita ini yang telah menahun, marilah kita mulai dengan menyingkirkan krisis yang ada di dalam diri kita dengan menyucikan pikiran, dan membersihkan tingkah laku kita dari hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai yang telah kita raih pada puasa ramadhan yang baru saja berlalu. Mulailah dari kita dan mulailah dari sekarang. Amiiiin

Jumat, 14 Agustus 2009

Isra dan Mi'raj; Nilai yang terlupakan

ISRA’ MI’RAJ: SISI YANG TERLUPAKAN

Isra’ Mi’raj adalah sebuah peristiwa monumental dan kolosal. Sebuah mukjizat yang didahului kondisi dan suasana sedih luar biasa yang dirasakan oleh Rasulullah SAW. Ketika beliau ke Thaif menyebarkan dakwahnya, penduduk Thaif menjawabnya dengan cemooh, intimidasi psikis bahkan kekerasan fisik. Beliau sangat bersedih..... Bukankah lewat informasi-informasi al-Qur’an ditemukan bahwa Rasulullah begitu sesak dadanya dengan kesedihan manakala umat yang diserunya mengabaikannya. Sebab beliau tahu, ia menawarkan kebenaran, kebaikan, keindahan, akan tetapi mereka enggan menerimanya. ”Fala’allaka baakhiunn nafsaka ’alaa aatsaarihim in lam yu’minuu bihadzal hadiitsi asafan”
Ketika manusia mengabaikannya, Allah memuliakannya dan mengangkat derajatnya ke tempat yang sangat tinggi. Inilah mukjizat Isra’ Mi’raj, yang pada dasarnya bukan hanya untuk menguatkan dakwah tetapi juga untuk memuliakan dan mengingatkan posisi Nabi di sisi Allah. Seakan-akan Allah berkata: ”Jika bumi tidak menghargaimu, maka sesungguhnya Langit mengangkat derajatmu, Jika manusia mengabaikanmu dan menyia-nyiakan seruan dakwahmu, maka sesungguhnya Allah memanggilmu, dan menyambutmu untuk memperlihatkanmu tanda-tanda kebesaran-Nya.”
Inilah Isra’ dan Mi’raj, yang sesungguhnya masing-masing memiliki mukjizat dan nilai-nilai tersendiri meskipun terjadi di satu malam. Mukjizat Isra’ tergambar dalam QS. Al-Isra’ (17): 1 dan mukjizat Mi’raj tergambar dalam QS. Al-Najm (53): 1-18.
Peristiwa Isra’ digambarkan oleh Al-Qur’an dengan diawali kalimat ”Tasbih” Bagaimanapun seseorang berupaya mencari sisi peristiwa, cara dan episodenya, maka pencarian itu akan berakhir dengan kegamangan dan takjub luar biasa. Maka kalimat ”Tasbih” amat tepat untuk memberi keyakinan pada hati yang selalu mencari, Maha Suci Allah, jika menghendaki sesuatu maka sesuatu itu akan terjadi seketika.
Peristiwa Isra’ ini kemudian dilanjutkan lagi dengan naik ”mi’raj” nya Nabi ke Sidratul Muntaha, melewati langit demi langit dan melampaui batas materi, dan batas-batas ruang dan waktu. Semua itu terjadi dalam waktu yang singkat, dan singkatnya digambarkan bagaikan seorang yang bangun dari peraduannya dan kembali lagi dalam keadaan peraduannya itu masih hangat.
Semua orang mengingkari peristiwa ini, manakala Rasulullah memberitakannya. Mengapa? Karena ukuran logika kala itu mengatakan bahwa orang Arab menempuh perjalanan dari Makkah ke Baitul Maqdis (Yerusalem) hingga berminggu-minggu dengan kendaraan unta dan kuda. Perjalanan kembalipun juga menempuh waktu yang sama lamanya.
Bahkan, di masa modern dan kemajuan teknologi transportasi sekarang ini, peristiwa di atas tetap tidak akan terjadi dan berlangsung secepat itu.
Lalu, jika peristiwa itu benar adanya, transportasi seperti apa yang digunakan Rasulullah? Hadis Sahih menceritakan bahwa Rasulullah ditemani Malaikat Jibril menggunakan buraq, kendaraan yang kecepatannya tak dapat dilukiskan. Buraq, berasal dari kata barq yang berarti cahaya. Ini memberi indikasi bahwa perjalanan Rasulullah menggunakan kecepatan cahaya, yang menurut ukuran kita kecepatannya 300 ribu km/detik.
Tapi sesungguhnya yang terjadi adalah, kecepatan yang digunakan jauh melebihi kecepatan cahaya, sebab mampu menembus batas dan hukum ruang dan waktu. Allah dengan kekuasaan-Nya telah melipat jarak yang memisahkan antara Makkah dan Yerusalem. Dan Allah telah memberi izin-Nya hingga Rasulullah mampu mencapai puncak langit sidratul Muntaha.
Di dalam peristiwa ini, juga dikisahkan pertemuan Rasulullah dengan Nabi-nabi pendahulunya. Mereka saling berkomunikasi, padahal dunia mereka berbeda. Atas izin-Nya pula perbedaan dunia itu mampu dilampaui. Sungguh, keajaiban demi keajaiban terjadi karena Allah menghendaki itu terjadi.
Allah menginginkan Rasulullah di dalam dua perjalanan itu melihat tanda-tanda kebesaranNya ”linuriyahuu min Aayaatinaa.”
Tanda-tanda kebesaranNya yang dimaksud adalah: Pertama: Turunnya Malaikat Jibril tanpa membawa wahyu. Sebab pada dasarnya Jibril hanya diturunkan ketika membawa wahyu atau pada saat terjadinya peristiwa di luar kemampuan manusia, seperti pada saat dibelahnya lautan untuk keselamatan Musa dan para pengikutnya dari kejaran Firaun. Kedua; Buraq yang telah diceritakan sebelumnya.
Ketiga; pertemuan Rasulullah dengan para Nabi yang telah wafat. Dikisahkan bahwa Rasulullah memimpin mereka dalam shalat. Tapi bukankah shalat baru disyariatkan beberapa saat kemudian? Boleh jadi shalat yang dimaksud di sini adalah Rasulullah membacakan kepada mereka beberapa ayat Al-Quran. Sebab, membaca qur’an adalah shalat juga. Inti dari pertemuan ini adalah, suntikan semangat untuk Rasulullah bahwa dakwah tauhid terus berlangsung, dan bahwa dialah Nabi yang telah diberitakan sebelumnya kepada Nabi Isa dan Nabi Musa.
Tampilnya Rasulullah sebagai imam di depan para Nabi menandakan bahwa ajaran yang dibawanya adalah ajaran final, yang menyempurnakan ajaran-ajaran tauhid terdahulu.
Keempat; Baitul Maqdis menjadi persinggahan sebelum menuju Sidratul Muntaha. Mengapa harus ke Baitul Maqdis dulu dan tidak langsung dari masjidil haram ke Sidratul Muntaha?
Di dalam sejarah, tercatat bahwa Baitul Maqdis adalah pusat dakwah kenabian. Para Nabi berasal dari Bani Israil. Karena keutamaan ini, bangsa Israil menganggap dirinya sebagai bangsa pilihan. Akan tetapi, kenyataan ini berbanding terbalik dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka menyia-nyiakan risalah tauhid, mengingkari wahyu bahkan membunuh para Nabi yang diutus kepada mereka. Allah berkehendak mencabut label keutamaan itu. Risalah tauhid dialihkan ke Bani Ismail. Kedatangan Rasulullah ke Baitul Maqdis adalah sebuah proklamasi perpindahan tampuk risalah ini dari Bani Israil ke Bani Ismail, dari bangsa Yahudi ke bangsa Arab.
Pada kesempatan Mi’raj di malam itu, terdapat dua tanda-tanda kebesaranNya. Pertama; Seperti difirmankan pada QS. Al-Najm (53): 16-18 ”ketika Sidrah diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda Tuhannya yang paling hebat.
Sidratul muntaha secara harfiah berarti 'tumbuhan sidrah yang tak terlampaui', suatu perlambang batas yang tak ada manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi (Final Frontier) . Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur'an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana sidratul muntaha itu. Lalu apa yang meliputi sidrah itu? Maka apakah yang meliputi sidrah itu adalah cahaya atau bahkan zat Allah? Jika benar, sungguh Rasulullah telah merasakan kenikmatan surgawi yang paling tinggi yaitu melihat Allah. Pada QS. Al-Qiyamah (75): 22-23, ”Wajah-wajah orang mukmin kala itu berseri-seri, kepada Tuhannya mereka melihat.”
”Perjumpaan”nya dengan Allah adalah puncak kehormatan dan penghargaan kepada Rasulullah SAW. Kepribadiannya yang sangat sederhana, tawadlu’ dan akhlak mulia lainnya membawanya ke haribaan Allah tanpa memohon dan meminta. Kita mengingat ketika Musa berada di bukit Thursina dan berbicara kepada Tuhan, ia memohon ”Tuhan, nampakkanlah ZatMu padaku!” Ia terjatuh tidak sadarkan diri manakala gunung di depannya hancur luluh oleh cahayaNya. Begitu pula permohonan Nabi Ibrahim agar Allah memperlihatkannya bagaimana menghidupkan dari sesuatu yang mati. Lain lagi Nabi Sulaiman, ia memohon diberikan oleh Allah kerajaan yang tiada bandingannya (QS. Shad (38):35). Nabi Muhammad tidak berani untuk melakukan itu di hadapan Allah. Namun, demikian Allah telah mengangkatnya ke derajat yang tiada taranya.
Tanda kebesaranNya yang kedua adalah kewajiban Shalat lima kali sehari semalam. Ketika, Rasulullah menikmati indahnya ”berjumpa” dengan Allah, maka shalat adalah media agar umatnya ikut pula menikmati keindahan ”perjumpaan” itu. Shalat adalah upaya berhubungan atau menyambung tali (shilah) dengan Allah SWT. Media ini diberikan kepada umat Muhammad sebagai penghargaanNya pada pribadi yang mulia ini. Lima kali sehari kita dapat berhubungan dengan Allah, berdoa dan meminta apa saja, memohon ampunan seberat apapun dosa yang pernah dilakukan. Dia Allah, Tuhan yang telah memberikan kesempatan kepada seorang hamba untuk menghubungiNya kapanpun dan di manapun. Dialah Tuhan yang mengabulkan permintaan seorang hamba bahkan memberinya melebihi apa yang diminta, membalas 10 kali sebuah perbuatan baik, dan hanya membalas sekali sebuah perbuatan maksiat. Rahmat, kasih sayang dan keutamaan-keutamaan dari Allah tersebut semuanya dapat diraih melalui shalat. Maka, sadarkah kita akan nilai shalat ini? Renungkanlah sebuah penghargaan Rasulullah pada shalat, ”Aku jadikan saat-saat terindahku ketika sedang shalat.”
Mengenai perintah shalat ini, ada hal yang perlu diteliti lebih jauh. Sudah masyhur di dalam riwayat isra’ mi’raj bahwa pada awalnya kewajiban shalat itu sebanyak 50 rakaat. Akan tetapi atas pertimbangan Nabi Musa, Rasulullah terus meminta keringanan kepada Allah hingga tersisa 5 rakaat saja. Hadis yang mengurai kisah ini ternyata tidak memiliki sanad yang kuat. Begitu pula dari segi muatan (matan) hadis perlu dikritisi dari empat sudut pandang; Pertama: Pertemuan Rasulullah dengan Allah adalah sebuah momentum yang agung dan khidmat, maka logiskah jika Rasulullah pada momentum tersebut dapat datang dan pergi begitu saja dan hanya untuk meminta pengurangan?
Kedua: Ada dugaan dan keraguan dalam muatan kisah ini yang mengarah kepada cerita Israiliyyat yang tidak dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Pemilihan sosok Nabi Musa di antara nabi-nabi yang lain mengindikasikan ke arah tersebut di atas. Lagi pula bagaimana bisa Musa lebih mengetahui keadaan umat Muhammad dari Muhammad sendiri? Jika kemudian hal ini diterima, boleh saja orang Yahudi beranggapan bahwa mereka memiliki andil dan jasa atas orang Islam.
Ketiga: Kisah di atas bernuansa materialistik. Sebab terlihat adanya transaksi, tawar menawar yang biasanya menjadi kebiasaan orang-orang Yahudi yang terkenal materialistis. Hal ini menguatkan dugaan bahwa kisah ini dibuat oleh orang-orang Yahudi yang masuk Islam pada masa-masa awal Islam, dengan tujuan-tujuan tertentu untuk melemahkan kaum muslimin.
Keempat: Transaksi dan tawar menawar jumlah rakaat shalat memiliki kemiripan dengan transaksi dan tawar menawar antara Nabi Musa dan orang-orang Yahudi yang diperintahkan untuk menyembelih seekor sapi, seperti terdapat dalam surah al-Baqarah. Hal yang semakin menguatkan bahwa kisah ini adalah rekaan orang-orang Yahudi.
Empat alasan ini ditambah dengan integritas moral Rasulullah yang tiada sudi meminta apalagi dengan kondisi yang begitu khidmat berhadapan dengan Allah SWT, sangatlah cukup untuk meragukan kisah jumlah rakaat tersebut. Cukuplah kita menggambarkan bahwa suasana seperti yang digambarkan surah al-Najm (53): 1-18 menandakan bahwa apa yang terjadi saat itu semuanya adalah mukjizat, yang sulit digambarkan dan diwujudkan dalam kalimat-kalimat. Itulah Isra’ Mi’raj, tanda-tanda kebesaran Allah SWT ” (ra’aa min aayaati rabbihil kubraa). Di dalamnya ada rahasia antara Allah dan Rasulullah, Mukjizat khusus bagi Rasulullah, penghargaan dan penghormatan bagi pribadinya serta sebuah suntikan kekuatan sehingga Rasulullah terlepas dari kesedihan dan semakin bersemangat di dalam menyeru kepada Islam.
Semoga ini semua dapat mengingatkan pada keutamaan-keutamaan shalat dan sosok pribadi Rasulullah yang ke-uswah-annya jangan hanya berhenti pada tataran simbol bagi umat Islam, akan tetapi harus menjadi jiwa dan tindakan nyata. Wallaahu A’lam.